Minggu, 23 September 2012

Era Baru FLP Purwokerto


Purwokerto- Regenerasi menjadi suatu keniscayaan di setiap kurun dan kepemimpinan. Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Purwokerto, pada hari Ahad tanggal 23 September 2012, dengan suasana yang cukup sederhana namun akrab, telah dilantik wajah-wajah baru guna menjadi pengurus FLP. Semangat baru, penerus estafet dakwah dengan sastra.
Bertempat di kediaman salah seorang pengurus, di perum Ledug Sejahtera Purwokerto. Pertemuan dan pelantikan itu, mengunggah tujuh orang yang mejabati personel kepengurusan. Ketua, Sekretaris, Bandahara, Humas (2), dan Kaderisasi (2). Yang dipersaksikan oleh beberapa rekan sesama anggota FLP Purwokerto.

Jumat, 23 Maret 2012

Menjadi Tetua Adalah ... (Catatan Jelang Pemilihan Tetua FLP Jawa Tengah)

Oleh Aries Adenata
(Mantan Ketua FLP Soloraya, Kaderisasi FLP Jawa Tengah)

Menjadi tetua haruslah siap dengan segala aspek yang melekat pada unsur tetua. Tak hanya unsur hitam dan putih. Tapi, ia juga merasuk pada ranah abu-abu, sebuah warna yang tak jelas, condong kehitam atau putih. Tapi warna itu jelas menyimpan makna.

Menjadi tetua itu harus siap ditelikung dari belakang, baik oleh lawan maupun kawan dekat. Karena disetiap lingkar kekuasan pasti ada Patih Ramapati yang mampu menyebar hasut, dusta, dengki untuk disimpan yang kelak dijadikan senjata untuk mengkudeta sang tetua.

Dari Surakarta, dan Kini Wonosobo

FLP Jawa Tengah berkembang pesat. Ketika FLP berdiri, tahun 1997, belum ada satupun FLP Cabang berdiri di Jawa Tengah. Karena, memang saat itu FLP baru berada di Jakarta, itu pun dalam sebuah lingkaran yang sangat terbatas. FLP saat itu digiatkan oleh Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Maimon Herawati (Muthmainnah), Ifa Avianty dkk. 
Baru pada tahun1999, di Jateng mulai berdiri FLP di 3 kota, yakni Purwokerto (didirikan oleh Sunarno dan Kang Nasirun Purwokartun), Surakarta (Izzatul Jannah) dan Semarang (Afifah Afra). Akan tetapi, saat itu belum ada FLP wilayah Jateng. Koordinasi langsung dengan FLP Pusat.

Senin, 09 Mei 2011

Kamar Peserta Rakorwil FLP Jateng Digedor Polisi

TEGAL – Minggu dini hari (8/5) sekitar pukul 00.36 WIB, para peserta Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Forum Lingkar Pena (FLP) Jateng dikejutkan dengan gedoran pintu kamar oleh satuan Kepolisian Resort (Polres) Tegal. Polres Tegal menerima laporan kehilangan anak usia SMA, dan menyisir Hotel Kencana Tegal tempat menginap para peserta Rakorwil dalam upaya penyelidikannya. 

Kamis, 28 April 2011

TALKSHOW KEPENULISAN "TEGAL CERDAS, TEGAL MENULIS

FLP Tegal didukung oleh FLP Jawa Tengah dan Pemkot Tegal mempersembahkan:
TALKSHOW KEPENULISAN "TEGAL CERDAS, TEGAL MENULIS"

Mengangkat tema-tema menarik di kupas mendalam oleh 3 pembicara yang kompeten.

- Ga Nulis, Ga Gaul! Oleh Afifah Afra (Ketua FLP Jateng, Penulis Novel 'De Winst')
- Yuk, Kita Angkat Budaya Tegalan! oleh Wijanarto (budayawan tegal)
- Jadi Penulis Sekarang Juga !!! oleh Tedi Kartini (Suskes Potensi Navigator)

Waktu : Ahad, 8 Mei 2011
Tempat : Pendopo Ki Gede Sebayu Kota Tegal.
Konstribusi 7 ribu pelajar, Umum 10 ribu
CP : Yustia 085724162114.

Senin, 18 April 2011

Sastra islami di tengah sastra kontemporer


Oleh Riannawati (Sekjen FLP Jateng, Dosen Sastra Indonesia UNS) 


Berbicara mengenai sastra Islam di Indonesia hampir selalu mengandung polemik. Banyak tokoh yang mempunyai batasan sendiri tentang sastra Islam. Karya-karya sastra Islam lama yang dihasilkan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Hamzah Fanshuri dan lain sebagainya menunjukkan bahwa sastra Islam memang ada. Sekarang sastra Islam masih berkembang meskipun dengan sajian yang berbeda. ‘Booming’ novel Islami yang memenuhi rak-rak toko buku dan banyaknya penulis yang lahir dengan ‘label’ Islami menunjukkan fenomena bahwa sastra Islam memang benar-benar ada. Polemik tentang sastra Islam ini membuat cukup banyak kalangan yang bingung dan terus mencari-cari informasi tentang hal tersebut. Apalagi perihal sastra Islam jarang disinggung oleh para sastrawan, kritikus bahkan ulama karena tidak atau belum dianggap sebagai sesuatu yang penting. Tulisan ini akan memaparkan beberapa hal tentang sastra Islam, terutama kemunculannya, dan fenomena banyaknya karya yang muncul dengan label ‘Islami’ di sampulnya.

Rabu, 13 April 2011

Up Grading Wilayah FLP Jawa Tengah

Insya Allah, tanggal 7-8 Mei 2011, FLP Jawa Tengah akan mengadakan Up Grading Wilayah Jawa Tengah. Diharapkan, setiap FLP cabang mengirim delegasi sebanyak 3 orang (diutamakan ketua, sekjen dan kabid PSDM/ kaderisasi). Acara akan dilaksanakan di Tegal.

Susunan acara Up Grading Wilayah, direncanakan sebagai berikut:

Selasa, 12 April 2011

Lomba Novel DKJT 2011

Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) akan mengadakan Sayembara Penulisan Novel 2011. Sayembara ini merupakan program Komite Sastra DKJT tahun ini, dan diharapkan bisa menjadi rangsangan bagi kreativitas pengarang Jawa Tengah dalam penulisan novel.

Senin, 24 Januari 2011

FLP Jawa Tengah in action...

Alhamdulillah bisa menulis di blog ini lagi setelah sekian lama vakum....mohon permaklumannya. Empat pengurus inti FLP Jawa Tengah yang semuanya ibu-ibu...(adanya emang cuma empat orang itu...heheh), baru saja mendapatkan amanah yang tak ternilai harganya. Bu Ketum melahirkan anak ketiga, sementara bu sekjen, POSDM dan Humas menjadi ibu dari putra pertamanya...hem...emang kita kompak banget..
Praktis selama beberapa waktu, kami harus konsen dengan urusan keluarga dulu...Alhamdulillah kini sudah mulai pada aktif lagi ...Jadi monggo bagi yg mau reques...

Sabtu, 18 Desember 2010

Calon-Calon Kuat Ketua FLP Jawa Tengah

By. Afifah Afra (Ketua FLP Jateng yang sudah kudu pensiun)
Tak terasa, tahun 2010 sudah hampir berlalu. Sepertinya 2008, saat muswil FLP Jateng yang terselenggara di Taman Budaya Jateng (TBJT) barusaja berlalu. Memang dua tahun bukan waktu yang lama. Tetapi, saya tidak hendak bercuap-cuap soal itu. Yang jelas, menurut AD/ART, masa kepengurusan FLP wilayah adalah 2 tahun. Jadi mestinya, agar FLP Jateng tidak dikuasai rezim Afifah Afra (jiaaah), harus segera digelar muswil.
Ada beberapa calon yang saya pandang layak memimpin Jateng, jauuuuh lebih baik dari kepemimpinan saya yang banyak kelemahan ini. Berikut ini adalah daftar kandidat versi saya :

Senin, 08 Juni 2009

Munas FLP 2009

Insya Allah tanggal 13-15 Agustus 2009, akan diselenggarakan Munas FLP di Solo....
Selain acara inti, yakni musyawarah nasional, kegiatan itu juga akan disemarakkan dengan berbagai acara seperti pemecahan rekopr MURI, workshop penulisan skenario, seminar dan lainnya.
bagi teman-teman daerah, dipersilakan mendaftar secepatnya ke Humas FLP Jawa Tengah, Eni Widiastuti, 08156710149

Minggu, 07 Juni 2009

Launching dan Pelatpulpen FLP Salatiga



Alhamdulillah setelah sekian lama tak mengisi halaman blog, hari ini jari-jari mungil ini kembali tergerak untuk menuliskan beberapa kata.

Sabtu, 31 Mei 2009, teman-teman dari Salatiga akhirnya melaunching pendirian FLP cabang Salatiga. Acara itu juga dibarengkan dengan pelatihan kepenulisan yang menghadirkan dua pembicara dari FLP Jateng. Yakni Siti Isnaniah dan Aries Adenata.

Senin, 26 Januari 2009

Agenda FLP....

Oleh: Eni Widiastuti
Solo, Senin, 26 januari 2009

Saat ini, temen-temen di FLP Jawa Tengah, memang sedang cukup disibukkan dengan agenda Munas FLP 2009. Rencananya, agenda akbar ini digelar di kompleks Asrama Haji Donohudan (AHD) Boyolali, tanggal 3-5 Juli (beberapa hari menjelang Pilpres(9/7))...Meski sebenarnya FLP Jawa tengah hanyalah panitia teknis, namun karena berbagai hal dituntut untuk tidak sekadar menjadi OC....

So, buat temen-temen FLP di manapun berada, mulai nabung ya untuk menyukseskan Munas FLP 2009....
Program lain dari FLP Jawa Tengah yang juga butuh persiapan ekstra, yakni penyelenggaraan Pelat Pulpen di berbagai daerah. yakni:
  • Kebumen, 22 Februari 2009, sekaligus launching FLP cabang Kebumen di aula SMAN 1 Kebumen...
  • Brebes, 9 Maret 2009
  • Semarang, 26 April
Pada rapat rutin Jumat (23/1) kemarin, juga disepakati adanya pembinaan secara lebih intensif kepada temen-temen di FLP cabang. Yaitu:
    • Afifah Afra: Semarang&Brebes
    • Riannawati: Pekalongan&Blora
    • Siti Isnaniah: Pati, banjarnegara
    • Aris&Ranu: Solo&Pemalang
    • Eni Widiastuti: Kebumen&Purwokerto
Insya Allah ke depan, para pembina dari FLP Jateng itu akan lebih intens berkomunikasi dengan teman-teman daerah. Selain itu, juga sedang dipersiapkan kurikulum pembinaan yang semoga semakin mendinamiskan FLP cabang....
Pesan buat temen-temen FLP cabang, jika ada agenda, tolong diiinfokan ke Humas FLP Jateng. Email aja ke wid_keyza@yahoo.com

Aries pimpin FLP Solo

Oleh: Eni Widiastuti
Solo, Senin 26 Januari 2009

Alhamdulillah, Allah SWT akhirnya menggerakkan jari-jari ini untuk kembali mengisi halaman blog FLP Jawa Tengah. Kami akui, cukup lama isinya tak di update karena berbagai alasan. Oleh karena itu, kami sebagai tim pengelola blog, mohon maaf kepada anda semua dan semoga Allah SWT berkenan mengampuni kami juga....Semoga ke depan, blog ini lebih diberdayakan...So, peran teman-teman sangat diharapkan...Kaish comment2 gitu ya...

Kabar teranyar berasal dari FLP Solo. Minggu, 25 Januari 2009, anggota FLP Solo baru saja melaksanakan musyawarah cabang di kantor penerbit Indiva Solo. Agendanya tak lain dan tak bukan, mendengerkan LPJ dari ketua lama, MN Furqon, dan memilih ketua baru.
Meski peserta yang datang hanya sekitar 15 orang, kegiatan itu bisa dikatakan sukses untuk ukuran penyelenggaraan Muscab. Sebelum LPJ, Afifah Afra selaku Ketua FLP wilayah Jawa Tengah memberikan wejangan untuk peserta. Intinya, anggota FLP diminta untuk terus berkarya dengan menghasilkan karya-karya yang mencerdaskan. Ditegaskan, FLP itu bisa diibaratkan sebuah organisasi profesi. Maknanya, jumlah anggota bukanlah prioritas utama FLP, tapi bagaimana orang-orang yang menjadi anggota FLP mampu menghasilkan karya nyata. Tak harus langsung mengarang sebuah novel atau buku yang berlembar-lembar, tapi hal itu harus dimulai dengan karya-karya sederhana seperti cerpen dan artikel yang kemudian dikirimkan ke media.

Setelah itu, MN Furqon pun mempertanggungjawabkan kinerjanya selama 44 bulan. ia menuturkan, di satu setengah tahun pertama, FLP Solo bisa dikatakan cukup eksis. Berbagai program kerja yang dirancang sebelumnya bisa dijalankan. Mulai dari Pelatihan Kepenulisan (Pelat Pulpen), FU Pelat Pulpen dengan berbagai kegiatan, diskusi karya, pengelolaan FLP KId's dan FLP teen's di berbagai sekolah, dan program lainnya.
"Tapi seiring waktu berjalan, kondisinya pun berubah. Minimnya SDM salah satunya karena banyak pengurus yang pindah dari Solo, menjadi salah satu penyebabnya. Pada perjalanan selanjutnya, banyak kegiatan yang tidak terlaksana. Tapi alhamdulillah Pelat Pulpen tetap berjalan sebagai ajang mencari bibit-bibit penulis baru," ujarnya.
Satu catatan penting yang mungkin bisa diambil pelajarannya oleh FLP cabang lainnya pada saat evaluasi LPJ, yakni masalah regenerasi. Pengurus FLP Solo dinilai kurang berhasil mengadakan regenerasi dan menjaga komitmen anggota. Akibatnya banyak alumni Pelat Pulpen yang secara otomatis menjadi anggota FLP Solo, seolah hilang entah kemana. Mereka tak lagi menampakkan batang hidungnya, pasca Pelat Pulpen. Akibat selanjutnya, acara-acara FLP Solo hanya melibatkan beberapa orang saja. Bahkan sang ketua dan salah satu sahabat karibnya (Aries) mengaku sering harus mempersiapkan berbagai acara sendiri. Mulai dari jadi pembicara, sekaligus ngurusin konsumsi.... (aduh, kasihan ya.....Furqon pun menegaskan agar tradisi ini tidak diwariskan pada kepengurusan FLP selanjutnya....)...

Setelah peserta bisa menerima LPJ itu dengan berbagai catatan, acara langsung dilanjutkan dengan pemilihan ketua FLP Solo yang baru. Dari empat calon yang, yakni Aries, Ranu, Rian, Eni, akhirnya si penulis Cerpen "Aku Mirip Nabi Yusuf", Aries Adinata terpilih sebagai Ketua FLP Solo tahun 2009-2011.....(Selamat ya pak ketua, semoga mimpi-mimpi tentang FLP Solo yang lebih bergairah di masa mendatang bisa diwujudkan, insya Allah temen-temen di wilayah akan selalu mendukungmu...)

Usai Salat Duhur, acara dilanjutkan dengan pembahasan tentang arahan FLP Solo ke depan...Subhanallah, banyak mimpi-mimpi indah dari temen-temen FLP Solo...(Semoga mimpi ini juga tertular kepada FLP cabang lainnya....).
Tak hanya ingin menggiatkan kegiatan tulis menulis, FLP Solo juga sedang merancang arahan baru untuk mengikuti berbagai lomba pembuatan film. Sebagai langkah awal, mereka berani ngebon kamera digital baru seharga 2,5 jutaan. Rencaanya, temen-temen FLP Solo akan membuat film dokumentar, indie dan film lainnya yang akan diikutkan dalam berbagai perlombaan.
Satu mimpi indah yang juga patut diacungi jempol dari temen-temen FLP Solo, yakni rencana mereka mengembangkan dunia tulis menulis. tak sekadar menulis cerpen dan novel, mereka pun (dan kita semua) ingin menjadi bagian dari mereka yang mampu menawarkankan sebuah sajian skenario sinetron yang berkualitas dan tentunya penuh dengan pesan moral. Kata Mba Yeni, sebenarnya FLP memiliki modal besar untuk mengganti tayangan sinetron dan FTV yang selama ini dinilai tak bermutu.
"Kita punya ratusan karya yang syarat makna. Soal modal jangan khawatir, saat ini banyak orang kaya yang justru kesusahan untuk memutarkan uangnya. Jadi mimpi untuk membuat skenario drama yang bermutu yang pada gilirannya akan mempengaruhi dunia pertelevisian Indonesia, insya Allah bisa diwujudkan," ujarnya penuh semangat....

Acara ini sekaligus menjadi ajang pamitan bagi ketua FLP Solo lama, MN Furqon. Salah satu artis film "Ketika Cinta Bertasbih" ini berniat hijrah ke Jakarta. Pilihan ini tentu bukan tanpa alasan. Sebagai artis, mobilitasnya tentu akan lebih banyak di Ibukota. So, kita doakan semoga pilihannya untuk terjun ke dunia entertaintmen akan membawa kemaslahatan bagi umat....(nanti jangan pada kaget ya, kalau suatu saat melihat wajahnya nongol di layar kaca...).

Sebagai penutup, saya sampaikan sebuah kalimat sederhana yang dikatakan trainer motivasi, Mario Teguh, saat acara "Golden ways" di Metro TV. Ia katakan, "Bila yang anda lakukan adalah suatu kebaikan, maka bersegeralah dan perhatikan apa yang akan terjadi"

So, buat temen-temen semua pengunjung blog ini, mari kita bersegera melakukan kebaikan apapun...Seorang muslim sejati seharusnya tak pernah merasa memiliki waktu luang, karena tugasnya lebih banyak dari waktu yang twersedia...



Jumat, 05 September 2008

Jaulah ke FLP Semarang

Oleh Afifah Afra
Selasa, 2 September 2008

Hari itu juga bertepatan dengan tanggal 2 Ramadhan. Memanfaatkan undangan dari Telkom, yang difasilitasi Toha Putera Learning Center, pasca membedah buku saya "And The Star is Me" di lantai 8 Gedung Telkom Semarang, siangnya saya langsung cabut ke kost Maria, pengurus FLP Semarang. Taksi blue bird yang saya naiki merambat, menaiki jalan menanjak di Gombel, lalu berbelok menuju Tembalang yang jalannya kian hari kian padat saja... tak sehening saat saya kuliah di sana dulu.

Karena bingung dengan alamat kost Maria (maklum, sudah 6 tahun lebih lulus kuliah), saya memilih turun di depan sebuah warnet, dan telp Maria. Tak sampai semenit, akhwat berjilbab rapi yang asli Chinesse (maksudnya peranakan China totok) itu datang dengan sepeda motornya. Ternyata kost Maria hanya berjarak sekitar 100 meteran. Di sana sudah menunggu Ali, Adisa dan Eri, elit FLP Semarang. Meski udara cukup panas, dan debu-debu beterbangan, kost Maria di Jatisari I cukup sejuk. Ali, dengan bacaan Qurannya yang bagus, melantunkan taujih Rabbani. Hm, kesan religius memang terbangun sangat kental di FLP Semarang. Bahkan untuk pertemuan 5 pasang mata pun tak lupa melantunkan ayat Al-Quran, salut deh!

Setelah tilawah, Adisa pun memberikan waktu untuk saya. Beberapa hal yang terkait dengan program FLP Jateng pun saya paparkan. Mulai dari perapian konsep kaderisasi, penertiban iuran (Semarang punya program 'kencleng FLP' sehari 100 rupiah), rencana pembuatan penerbit nirlaba Pelat Pulpen Publishing, hingga kewajiban membuat taman baca.
"Tempat taman bacanya dimana, Mbak?" tanya Maria, dengan logat Pemalangnya yang medok.
"Bisa dimana saja," jawab saya. "Di kost, atau bahkan bekerja sama dengan takmir masjid."
"Insya Allah tempat sudah ada, Mbak," ujar Ali. "Sebenarnya, masalah terberat kami adalah komitmen, FLP sering menjadi organisasi yang dianaktirikan."
"Iya mbak, FLP itu prioritas nomor 27!" ujar Maria, separuh bergurau.
Waduh! Lantas saya jelaskan, bahwa FLP bukanlah sebuah lembaga main-main. Saya bahkan mencontohkan, untuk fokus di FLP, saya melepas amanah saya di beberapa organisasi dakwah, termasuk menolak jabatan struktural di sebuah parpol Islam.
Memang, sesederhana apapun program, jika tidak dijalankan dengan serius, dengan fokus, hasilnya pasti acak-adut.

Tak terasa, sudah jam 3. Maria yang mengingatkan. Pertemuan yang sederhana namun mampu memicu motivasi untuk tetap komitmen di jalan dakwah bil kalam itu usai. Lega rasanya melihat ada kecerahan di wajah Ali, Adisa, Eri dan Maria. Sayangnya, ketika mengantar ke halte bus, sepeda motor Maria gembos.
"Maaf Mbak, sepedanya gembos," ujar Maria, seperti sangat bersalah. Aku pun tertawa lebar. Sembari kutepuk bahunya, aku pun menenangkan.
"Biar saya naik angkot saja, itu ada tempat tambal ban!"

Akhirnya, aku pun pulas tertidur di bus AC-ekonomi Taruna yang lambannya bukan maen... namun justru memberi kesempatan untuk beristirahat dengan leluasa.
See you next, Semarang!!!

Kamis, 28 Agustus 2008

Selaksa cinta dari Halakoh Kubro

Subhanallah walhamdulillah....
Setelah dipersiapkan sekian pekan, akhirnya kegiatan akbar perdana FLP Jawa Tengah bisa terlaksana, Sabtu-Minggu (23-24 Agustus 2008). Meski tidak semua FLP cabang mengirimkan wakilnya, gelaran Halakah Akbar itu terbilang cukup sukses.
Berikut ini laporannya........

Setelah peserta berkumpul di Rumah Karya Indiva, Jalan Apel II nomor 30 Solo, diadakan sesi perkenalan. Selanjutnya, seorang pakar sastra dari FSSR UNS, Dwi Susanto, mulai membagi ilmunya tentang sastra. Ia menyampaikan makalah cukup panjang berjudul, "Forum Lingkar Pena, Komunitas Berbasis (ideologi) Keislaman?" Kebetulan saat itu saya tidak bisa ikut forum. So, saya hanya bisa menyampaikan isi makalah yang saya minta dari Furqon.
Intinya, setelah memaparkan panjang lebar tentang komunitas seni atau sastra tempo dulu, ia lantas mengupas sedikit sejarah berdirinya FLP, dosen ini juga memberikan beberapa kritik terhadap FLP. Diantaranya penilaian beliau bahwa karya-karya anggota FLP yang pada umumnya memiliki bentuk formal yang setipe ataupun serupa, tema yang sama dan masalah yang ujung-ujungnya sama. Meskipun menggunakan teknik cerita yang berbeda, kesamaan motif dan tata naratif memiliki kecenderungan yang seragam. Menurut para pengamat sastra, karya-karya FLP pada umumnya menampilkan sifat keislaman yang terlalu mencolok....
Benarkah penilaian itu??? Sastrawan FLP lah yang harus menjawabnya dengan karya nyata.....

Malam harinya usai Salat Isya berjamaah, seharusnya adalah sesi Izzatul Jannah yang bertugas memberikan spirit tentang kepenulisan. Tapi karena beliau berhalangan, akhirnya Mba Mutaqwiyati ditodong menjadi penggantinya. Satu hal yang selalu saya ingat dari pernyataan beliau bahwa ketika membuat karya, seorang penulis harus menulisnya dari hati sehingga karya yang dihasilkan juga memiliki ruh tersendiri......

Setelah itu, acara dilanjutkan sharing tentang apa yang terjadi pada FLP cabang. Ternyata temen-temen cabang memang membutuhkan spirit baru. Kata Mba Titaq, FLP Brebes sedang mati suri padahal Mba Yeni berharap FLP cabang bisa menjadi pionir FLP bagian Pantura. Mba Yosi dari Pekalongan bilang, FLP Pekalongan selama ini lebih dekat ke pusat dan ada sekitar 8 orang yang aktif. Kata Maria, FLP Semarang sedang dirundung duka karena ada sedikit beban yang belum menemukan jalan keluarnya. Kalau FLP Purwodadi, kata Bang Eddy masih menunggu kader mutasi, tapi mereka mentargetkan sebelum 2009, kepengurusan sudah terbentuk. FLP Sukoharjo yang dipandegani Ranu Muda harus sedikit bersabar karena baru mau dibentuk, Sementara FLP Banjarnegara menurut De Devvi sedang beku. Kata Fros, FLP Purwokerto ibarat bayi mungil yang mulai belajar jalan, selama ini kegiatan baru sebatas diskusi.
Dan yang pasti FLP Solo yang diketuai (calon) artis, MN Furqon, kondisinya relatif lebih baik daripada FLP cabang lainnya. Maklum saja, FLP Solo adalah gudang penulis bertalenta. Jadi relatif mudah bagi mereka untuk menggerakkkan roda organisasinya. Kata Furqon, FLP Solo baru saja mengadakan Pelat Pulpen (Pelatihan Kepenulisan Lingkar Pena) I. Kegiatan ini diikuti para calon penulis...sekaligus sebagai persiapan menjelang digelarnya Munas FLP 2009 di solo.

Satu hal yang patut ditiru FLP cabang lainnya dari FLP Solo yakni model penggalian dana yang mereka lakukan. Kata Ranu dan Furqon, FLP Solo selama ini menjalin kerjasama dengan beberapa sekolah untuk ngadain bimbingan kepenulisan. Ada FLP kids dan FLP teen. Lumayan lho hasilnya...sampai-sampai pengurus tidak perlu mengeluarkan sejumlah uang ketika mereka pergi ke Jakarta untuk mengikuti Silnas. Tentang hal ini Mba Yeni berkomentar, kalau memang bisa profesional, tak ada salahnya menerima imbalan dari bimbingan yang dilakukan. Toh uangnya buat hal yang bermanfaat juga....Hayo, FLP mana yang mau meniru....kemarin sih Mba Titaq langsung tertarik...

Pagi harinya, acara koordinasi FLP Jateng dan cabang terus berlanjut....dari hasil diskusi panjang...disepakati beberapa hal:
  • FLP cabang harus segera menyelenggarakan Pelat Pulpen I untuk merekrut kader FLP baru, usahakan FLP cabang punya rumah baca yang sekaligus sebagai sekretariat FLP
  • FLP Jateng harus segera membuat pola kaderisasi secara rinci
  • Iuran anggota FLP digiatkan lagi dengan besaran Rp 3000/orang. Pembagiannya, 50% masuk ke cabang, 30% masuk wilayah dan 20% masuk pusat
  • Sekjen FLP Jateng, Mba Rian minta bantuan temen-temen cabang untuk mendata anggotanya yang telah menjadi anggota muda/lulus Pelat Pulpen I untuk pengadaan KTA, kegiatan dan karya FLP cabang dikirimkan ke FLP Jateng
  • Humas FLP jateng, Eni berharap temen-temen cabang rajin membuka blog FLP Jetang. Insya Allah blog akan menjadi sarana komunikasi dan infromasi antara wilayah dan cabang. Jika FLP cabang punya kegiatan tertentu, diminta segera mengirimkan ke email wid_keyza@yahoo.com.

Karena tahun 2009 FLP Jateng dapet amanah sebagai penyelenggara Munas FLP, kemarin gelaran halakah Akbar ditutup dengan pembantukan panitia inti Munas FLP
Susunan pengurusnya sbb:
    • Ketua: Afifah Afra
      • Sekretaris: Aries Adenata, Iffah Norr Chasanah
      • Bendahara: Riannawati
      • Sie Acara: MN Furqon
      • Sie Dana: Ranu Muda, Reza Pahlevi
      • Sie Humas: Eni Widi, Fahrur Rozie
Alhamdulillah sekitar jam 12 siang, seluruh rangkian acara berakhir. Setelah makan siang bersama, beberapa peserta pulang ke daerah masing-masing. Tapi ada juga yang masih kuat jalan-jalan ke Gramedia...

Selasa, 12 Agustus 2008

Undangan Halakoh Kubro

No. : 002/FLP Jateng /VIII/2008

Hal : Pemberitahuan rencana Halaqoh Akbar FLP Jateng

Lamp. : 2 lembar

Kepada Yth.

Ketua FLP Cabang Wilayah Jateng

Di Tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW. Wa ba’du.

Sehubungan dengan akan diadakannya Halaqah Akbar FLP Jawa Tengah di Solo pada:

Hari/tanggal : Sabtu-Ahad, 23-24 Agustus 2008

Waktu : 12.00 WIB (tiba di tempat)

Tempat : Kantor Indiva Jl. Apel II No. 30 Jajar Solo

mohon setiap pengurus FLP Cabang di wilayah Jateng untuk mengirimkan 3 orang pengurus (diutamakan ketua dan kaderisasi). Sebagai pemberitahuan, biaya akomodasi (makan, penginapan dll.) selama di Solo, semua menjadi tanggungan panitia. Akan tetapi, biaya transportasi menuju Solo ditanggung oleh peserta atau dari FLP Cabang masing-masing.

Untuk konfirmasi delegasi yang akan diberangkatkan, mohon dikirim biodata kepada panitia Halaqoh Akbar Jateng, serta pemberitahuan kepada FLP Jateng via email (wid_keyza@yahoo.com)/ SMS (0815-6710149).

Atas kerjasamanya, kami ucapkan jazzaakumullahu khairan katsiron.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Hormat kami,

Ketua FLP Jateng

Yeni Mulati, S.Si

NB:

Mohon membawa:

1. Data anggota riil (form terlampir) dan struktur kepengurusan cabang

2. Catatan kegiatan, kemajuan program dan evaluasi masing-masing cabang

Sekilas tentang Halakoh Kubra FLP jateng

Surakarta, 23-24 Agustus 2008

Sabtu

12.00 : Peserta datang (penjemputan ke lokasi), registrasi, cek peserta

12.00 – 13.00 : Ishoma

13.00 – 13.45 : Pembukaan

13.45 – 14.45 : Ta’aruf besar

14.45 – 15.30 : Istirahat, Sholat

15.30 – 17.00 : Materi 1: Menakar Peran FLP di Rumah Susastra Indonesia

Oleh Dwi Susanto, S.S., M.Hum. (dosen sastra UNS)

17.00 – 18.45 : Bersih diri, maghrib, tilawah, kultum.

18.45 – 19.45 : Isya, makan malam

19.45 – 22.00 : Materi 2: Breaktrough Your Writing Habit

Oleh Izzatul Jannah

22.00 – 04.00 : Istirahat

Ahad

04.00 - 05.00 : Sholat subuh

05.00 – 07.30 : Bersih diri, sarapan

07.30 – 09.00 : Diskusi sesi 1: Sosialisasi program FLP Jateng.

09.00 – 09.30 : istirahat

09.30 – 11.00 : Diskusi sesi 2: alur kaderisasi FLP

11.00 – 11.30 : Closing Appointment

11.30 – 12.00 : Penutupan, packing pulang


Senin, 16 Juni 2008

Mencari Bentuk Kritik Sastra

Sumber:
Solopos, Edisi : Minggu, 15 Juni 2008 , Hal.V
 
Dwi Susanto, Dosen Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS.
 
Perdebatan dan perkembangan kritik sastra menunjukkan perkembangan studi sastra perlahan-lahan dan pasti sedang bertransformasi untuk menentukan bentuknya kembali.
Pertanyaan yang muncul adalah apakah kritik sastra di Indonesia ini telah menemukan bentuk dan semangatnya? Rahmat Djoko Pradopo (1984) dalam disertasinya Kritik Sastra Indonesia Modern telah memaparkan sejarah kritik sastra di Indonesia. Pradopo dalam mengategorikan kritik berpegang pada teori romantik yang dikenalkan M H Abrams. Akhirnya, model ini banyak diikuti kritikus di Indonesia, khususnya aliran akademis hingga saat ini. Jika melihat beberapa tulisan dari Budi Darma (1995), persoalan yang muncul adalah apakah paradigma tersebut masih relevan jika dikembangkan di dunia akademis kita? 

Pengetahuan tentang sastra

Solopos, Minggu, 01 Juni 2008 , Hal.V

Apa jenis kelamin komunitas sastra kota?

Solo The Spirit of Java. Jargon yang kini diusung oleh Kota Budaya Solo ini menggaung santer ke seluruh pelosok negeri bahkan ke seluruh penjuru dunia.
Terbukti penyelenggaraan World Congress of the Organization of Heritages Cities di bulan Oktober mendatang diselenggarakan di Kota Solo. Tak hanya itu, Solo ditetapkan sebagai World Heritage Cities. Nah, melihat jargon dan historis Solo yang semakin diakui dan dikukuhkan sebagai kota warisan budaya ini.Ada sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab oleh komunitas sastra kota. Apa peran dan jenis kelamin komunitas sastra kota saat ini dan mendatang? Beberapa tahun ini marak dan tercatat beberapa komunitas sastra kota yang sempat hidup dan meramaikan khasanah sastra Kota Solo. Sebut saja, Meja Bolong, FLP, Sketsa Kata, Pawon, HPK dan komunitas-komunitas lainnya.Komunitas sastra kota ini tak jelas dengan peran yang akan diambilnya bagi Kota Solo. Ada beberapa pertanyaan besar untuk dijawab oleh komunitas sastra Kota Solo. Pertama, komunitas sastra kota akan dibawa ke arah pembentukan sastrawan atau penulis-penulis muda yang membawa kearifan lokal, sastra hijau dan sesuai dengan jenis kelamin komunitas mereka dalam kegiatan dan berkarya, atau diberi ruang untuk berekspresi sesuai dengan stereotyp yang selama ini ada. Sastra bebas berekspresi secara individual tanpa ada kekang atau mengikuti jenis kelamin dari sebuah komunitasnya. Atau keduanya disinergikan. Yaitu membawa identitas jenis kelaminnya atau genre komunitasnya sekaligus memberi ruang kepada individu untuk bereksperimen.Kedua, perlukah sebuah jenis kelamin yang jelas bagi sebuah komunitas sastra? Atau justru sudah saatnya tidak tabu untuk saling memperlihatkan jenis kelamin masing-masing komunitasnya? Selama ini komunitas sastra terkesan saling bersyakwasangka antara satu dengan yang lain terkait dengan jenis kelamin. Bahkan, mereka kadang saling mengintip di balik celana komunitas lainnya hanya untuk mengetahui kelamin komunitas sastra lainnya. Walaupun mereka sering meneriakkan bahwa sastra adalah otoritas yang bebas dari nilai, kepentingan, tak berpihak, dan tak berjenis kelamin. Tetapi sesungguhnya semua komunitas sastra, disangkal atau tidak disangkal mereka mengusung ideologi atau berjenis kelamin tertentu. Namun, itu semua hanyalah pada tataran teori belaka. Tetapi, sesungguhnya di ranah kenyataan mereka masih menjaga jarak secara ideologis atau jenis kelamin, seolah bahwa komunitas mereka adalah bukan muhrimnya untuk komunitas tertentu. Akan tetapi, secara zahir mereka saling bersentuhan untuk mengadakan kegiatan yang menyemarakan jagad sastra di Kota Solo. Semoga pertanyaan kedua ini akan memantik komunitas-komunitas sastra Kota Solo untuk saling terbuka memperlihatkan jenis kelamin mereka untuk bisa menunjukkan kepada khalayak umum bahwa sastra adalah wilayah yang toleran, egaliter dan demokratis. Semua ideologi dan kepentingan dapat duduk bersama dan berdialog, bukannya untuk saling mencurigai, saling menghujat, saling menjatuhkan, saling menikam, saling-saling yang lainnya, yaitu membuat pihak lain tersudut atau tiarap untuk sementara waktu, atau bahkan tiarap untuk selamanya. Atau justru pertanyaan kedua ini akan membuat satu komunitas dengan komunitas lainnya saling menutup rapat-rapat celana mereka agar jenis kelamin mereka tidak ketahuan dan diintip komunitas lainnya? Ah...terserah mereka John Koplo!Pertanyaan ketiga adalah apakah komunitas sastra kota dan para pegiat sastra akan bersinergi dengan tagline Kota Solo, yaitu Solo The Spirit of Java? Nah, ketika tagline ini ditarik ke arah karya sastra, akankah tagline ini dikunyah dengan mentah, ataukah tagline tersebut diejawantahkan dalam bentuk tagline yang lain sehingga bermetamorfosa menjadi tagline baru bagi pegiat sastra dan komunitas sastra kota, misalnya Solo The Spirit of Writing. Ya, Solo adalah sumber inspirasi untuk menulis. Solo gudang peristiwa sosial, budaya, sejarah dan politik. Mulai dari peristiwa geger Kerajaan Surakarta, perjuangan empat lima, kerusuhan Mei, para priyayi kampung batik, pergeseran trend belanja dari pasar tradisional menuju pasar modern dan berbagai peristiwa lain. Jika semua itu menjadi sumber inspirasi para pegiat komunitas sastra kota dan penulis Solo. Maka, peristiwa tersebut akan tercatat dalam sejarah jagad karya sastra, karena sastra adalah cermin masyarakat tersebut. Peristiwa atau sejarah yang dibungkus karya sastra bisa jadi akan banyak digemari, disenangi bahkan dibaca banyak kalangan, sebut saja karya sastra yang berlatar belakang sejarah, misalnya Para Priyayi tulisan Umar Kayam yang memotret masyarakat Jawa tempo dulu atau yang sekarang sedang meledak di pasaran yaitu karya sastra Gajah Mada tulisannya Langit Kresna Hadi. Juga ada karya sastra lainnya yang memotret Solo lebih jelas dari masa pergerakan hingga mencari bentuk nilai kebangsaan dari kacamata masyarakat Solo, yaitu De Winst tulisan Afifah Afra.Jika Solo adalah sumber inspirasi bagi karya sastra dan karya sastra tersebut digemari, disenangi dan dibaca banyak kalangan. Maka, tulisan tersebut akan menjadi magnet untuk masyarakat domestik untuk meneliti bahkan berkunjung ke Solo. Dan jika karya sastra tersebut diterjemahkan ke bahasa asing kemudian menjadi konsumsi masyarakat asing, maka tulisan tersebut akan menjadi media promosi yang efektif bagi Kota Solo. Meskipun tujuan dari karya sastra sesungguhnya bukanlah media promosi, tetapi salah satu tugas karya sastra adalah memotret peristiwa yang terjadi dalam masyarakat tersebut yang akan berdampak bagi khalayak umum menjadi tertarik dengan peristiwa yang melingkupi dan tempat terjadinya peristiwa dari karya tersebut. Semoga!Pertanyaan terakhir sekaligus pembuka wacana. Kini posisi komunitas sastra Kota Solo dipertaruhkan dengan keberadaan DKS (Dewan Kesenian Surakarta) apakah dengan keberadaan DKS akan menjadi tempat peraduan mereka untuk saling bersinergis dan lebih giat lagi untuk menyemarakkan jagad sastra di Solo? Ataukah DKS yang akan mengambil alih peran komunitas sastra Kota Solo? Atau akankah mereka saling baku hantam hanya sekadar untuk mendapatkan kucuran dana dari DKS yang notabene uang tersebut dari rakyat?!Di atas sudah ada empat pertanyaan pemantik untuk dijawab komunitas sastra Kota Solo. Sekarang yang kita tunggu adalah sikap dari para pegiat sastra kota untuk menyikapinya. Apakah empat pemantik pertanyaan di atas ditanggapi dingin-dingin saja, ditanggapi dengan telinga merah atau akan ditanggapi dengan tangan terbuka yang kemudian akan menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama untuk merumuskan peran masalah jenis kelamin di antara komunitas sastra Kota Solo. Kini, masalah kelamin bukanlah otoritas dokter saja, tetapi juga masalah bagi pegiat dan komunitas sastra kota untuk diselesaikan. Ah...lagi-lagi masalah jenis kelamin! - Aries Adenata SS