Senin, 16 Juni 2008

Mencari Bentuk Kritik Sastra

Sumber:
Solopos, Edisi : Minggu, 15 Juni 2008 , Hal.V
 
Dwi Susanto, Dosen Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS.
 
Perdebatan dan perkembangan kritik sastra menunjukkan perkembangan studi sastra perlahan-lahan dan pasti sedang bertransformasi untuk menentukan bentuknya kembali.
Pertanyaan yang muncul adalah apakah kritik sastra di Indonesia ini telah menemukan bentuk dan semangatnya? Rahmat Djoko Pradopo (1984) dalam disertasinya Kritik Sastra Indonesia Modern telah memaparkan sejarah kritik sastra di Indonesia. Pradopo dalam mengategorikan kritik berpegang pada teori romantik yang dikenalkan M H Abrams. Akhirnya, model ini banyak diikuti kritikus di Indonesia, khususnya aliran akademis hingga saat ini. Jika melihat beberapa tulisan dari Budi Darma (1995), persoalan yang muncul adalah apakah paradigma tersebut masih relevan jika dikembangkan di dunia akademis kita? 

Pengetahuan tentang sastra

Solopos, Minggu, 01 Juni 2008 , Hal.V

Apa jenis kelamin komunitas sastra kota?

Solo The Spirit of Java. Jargon yang kini diusung oleh Kota Budaya Solo ini menggaung santer ke seluruh pelosok negeri bahkan ke seluruh penjuru dunia.
Terbukti penyelenggaraan World Congress of the Organization of Heritages Cities di bulan Oktober mendatang diselenggarakan di Kota Solo. Tak hanya itu, Solo ditetapkan sebagai World Heritage Cities. Nah, melihat jargon dan historis Solo yang semakin diakui dan dikukuhkan sebagai kota warisan budaya ini.Ada sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab oleh komunitas sastra kota. Apa peran dan jenis kelamin komunitas sastra kota saat ini dan mendatang? Beberapa tahun ini marak dan tercatat beberapa komunitas sastra kota yang sempat hidup dan meramaikan khasanah sastra Kota Solo. Sebut saja, Meja Bolong, FLP, Sketsa Kata, Pawon, HPK dan komunitas-komunitas lainnya.Komunitas sastra kota ini tak jelas dengan peran yang akan diambilnya bagi Kota Solo. Ada beberapa pertanyaan besar untuk dijawab oleh komunitas sastra Kota Solo. Pertama, komunitas sastra kota akan dibawa ke arah pembentukan sastrawan atau penulis-penulis muda yang membawa kearifan lokal, sastra hijau dan sesuai dengan jenis kelamin komunitas mereka dalam kegiatan dan berkarya, atau diberi ruang untuk berekspresi sesuai dengan stereotyp yang selama ini ada. Sastra bebas berekspresi secara individual tanpa ada kekang atau mengikuti jenis kelamin dari sebuah komunitasnya. Atau keduanya disinergikan. Yaitu membawa identitas jenis kelaminnya atau genre komunitasnya sekaligus memberi ruang kepada individu untuk bereksperimen.Kedua, perlukah sebuah jenis kelamin yang jelas bagi sebuah komunitas sastra? Atau justru sudah saatnya tidak tabu untuk saling memperlihatkan jenis kelamin masing-masing komunitasnya? Selama ini komunitas sastra terkesan saling bersyakwasangka antara satu dengan yang lain terkait dengan jenis kelamin. Bahkan, mereka kadang saling mengintip di balik celana komunitas lainnya hanya untuk mengetahui kelamin komunitas sastra lainnya. Walaupun mereka sering meneriakkan bahwa sastra adalah otoritas yang bebas dari nilai, kepentingan, tak berpihak, dan tak berjenis kelamin. Tetapi sesungguhnya semua komunitas sastra, disangkal atau tidak disangkal mereka mengusung ideologi atau berjenis kelamin tertentu. Namun, itu semua hanyalah pada tataran teori belaka. Tetapi, sesungguhnya di ranah kenyataan mereka masih menjaga jarak secara ideologis atau jenis kelamin, seolah bahwa komunitas mereka adalah bukan muhrimnya untuk komunitas tertentu. Akan tetapi, secara zahir mereka saling bersentuhan untuk mengadakan kegiatan yang menyemarakan jagad sastra di Kota Solo. Semoga pertanyaan kedua ini akan memantik komunitas-komunitas sastra Kota Solo untuk saling terbuka memperlihatkan jenis kelamin mereka untuk bisa menunjukkan kepada khalayak umum bahwa sastra adalah wilayah yang toleran, egaliter dan demokratis. Semua ideologi dan kepentingan dapat duduk bersama dan berdialog, bukannya untuk saling mencurigai, saling menghujat, saling menjatuhkan, saling menikam, saling-saling yang lainnya, yaitu membuat pihak lain tersudut atau tiarap untuk sementara waktu, atau bahkan tiarap untuk selamanya. Atau justru pertanyaan kedua ini akan membuat satu komunitas dengan komunitas lainnya saling menutup rapat-rapat celana mereka agar jenis kelamin mereka tidak ketahuan dan diintip komunitas lainnya? Ah...terserah mereka John Koplo!Pertanyaan ketiga adalah apakah komunitas sastra kota dan para pegiat sastra akan bersinergi dengan tagline Kota Solo, yaitu Solo The Spirit of Java? Nah, ketika tagline ini ditarik ke arah karya sastra, akankah tagline ini dikunyah dengan mentah, ataukah tagline tersebut diejawantahkan dalam bentuk tagline yang lain sehingga bermetamorfosa menjadi tagline baru bagi pegiat sastra dan komunitas sastra kota, misalnya Solo The Spirit of Writing. Ya, Solo adalah sumber inspirasi untuk menulis. Solo gudang peristiwa sosial, budaya, sejarah dan politik. Mulai dari peristiwa geger Kerajaan Surakarta, perjuangan empat lima, kerusuhan Mei, para priyayi kampung batik, pergeseran trend belanja dari pasar tradisional menuju pasar modern dan berbagai peristiwa lain. Jika semua itu menjadi sumber inspirasi para pegiat komunitas sastra kota dan penulis Solo. Maka, peristiwa tersebut akan tercatat dalam sejarah jagad karya sastra, karena sastra adalah cermin masyarakat tersebut. Peristiwa atau sejarah yang dibungkus karya sastra bisa jadi akan banyak digemari, disenangi bahkan dibaca banyak kalangan, sebut saja karya sastra yang berlatar belakang sejarah, misalnya Para Priyayi tulisan Umar Kayam yang memotret masyarakat Jawa tempo dulu atau yang sekarang sedang meledak di pasaran yaitu karya sastra Gajah Mada tulisannya Langit Kresna Hadi. Juga ada karya sastra lainnya yang memotret Solo lebih jelas dari masa pergerakan hingga mencari bentuk nilai kebangsaan dari kacamata masyarakat Solo, yaitu De Winst tulisan Afifah Afra.Jika Solo adalah sumber inspirasi bagi karya sastra dan karya sastra tersebut digemari, disenangi dan dibaca banyak kalangan. Maka, tulisan tersebut akan menjadi magnet untuk masyarakat domestik untuk meneliti bahkan berkunjung ke Solo. Dan jika karya sastra tersebut diterjemahkan ke bahasa asing kemudian menjadi konsumsi masyarakat asing, maka tulisan tersebut akan menjadi media promosi yang efektif bagi Kota Solo. Meskipun tujuan dari karya sastra sesungguhnya bukanlah media promosi, tetapi salah satu tugas karya sastra adalah memotret peristiwa yang terjadi dalam masyarakat tersebut yang akan berdampak bagi khalayak umum menjadi tertarik dengan peristiwa yang melingkupi dan tempat terjadinya peristiwa dari karya tersebut. Semoga!Pertanyaan terakhir sekaligus pembuka wacana. Kini posisi komunitas sastra Kota Solo dipertaruhkan dengan keberadaan DKS (Dewan Kesenian Surakarta) apakah dengan keberadaan DKS akan menjadi tempat peraduan mereka untuk saling bersinergis dan lebih giat lagi untuk menyemarakkan jagad sastra di Solo? Ataukah DKS yang akan mengambil alih peran komunitas sastra Kota Solo? Atau akankah mereka saling baku hantam hanya sekadar untuk mendapatkan kucuran dana dari DKS yang notabene uang tersebut dari rakyat?!Di atas sudah ada empat pertanyaan pemantik untuk dijawab komunitas sastra Kota Solo. Sekarang yang kita tunggu adalah sikap dari para pegiat sastra kota untuk menyikapinya. Apakah empat pemantik pertanyaan di atas ditanggapi dingin-dingin saja, ditanggapi dengan telinga merah atau akan ditanggapi dengan tangan terbuka yang kemudian akan menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama untuk merumuskan peran masalah jenis kelamin di antara komunitas sastra Kota Solo. Kini, masalah kelamin bukanlah otoritas dokter saja, tetapi juga masalah bagi pegiat dan komunitas sastra kota untuk diselesaikan. Ah...lagi-lagi masalah jenis kelamin! - Aries Adenata SS

Selasa, 10 Juni 2008

Pengumuman

Bagi temen-temen FLP Jawa Tengah yang ada di manapun, kalau anda mempunyai info, tulisan menarik ataupun foto yang layak ditampilkan dan ingin ditampilkan di blog FLP Jawa Tengah, silakan kirim karya itu ke pengelola blog.
Silakan via email ke wid_keyza@yahoo.com
Selamat berkarya

Profil

Profil pengurus FLP Jawa Tengah
Periode 2008-2010

Afifah Afra

Pemilik nama asli Yenni Mulati ini, dipercaya oleh pengurus FLP se-Jateng untuk menjadi Ketua FLP Jawa Tengah periode 2008-2010. Kepercayaan ini tentu bukan tanpa alasan.
Sebagai penulis yang cukup senior, karya Afifah Afra sudah tak terhitung jumlahnya. Saat ini, lebih dari 30 buku karyanya telah diterbitkan.
Selain sibuk menjadi General Manajer di Indiva Media Kreasi, ibu dari dua orang putera ini juga aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan.

Rianna Wati

Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) ini mendapat amanah sebagai Sekretaris Jenderal FLP Jawa Tengah.
Soal kiprahnya, tak perlu diragukan lagi. Sejak SMP, karyanya sudah dipublikasikan di program baca Cerpen RSPD Wonogiri. Tahun 2007, Cerpennya masuk dalam ontology JOGLo 4, Taman Budaya Jawa Tengah.
Selain mengajar, Rian juga aktif dalam organisasi sosial kemasyarakatan.

MN Furqon

Ketua Departemen Kaderisasi FLP Jawa Tengah ini boleh jadi sedang berlega hati karena setelah bertahun-tahun berjuang, akhirnya 7 Juni lalu, ia resmi menjadi sarjana Sastra Inggris.
Maklum, kesibukannya di luar kuliah, agaknya lebih menarik hatinya. Selain sebagai editor Indiva Media Kreasi, Furqon juga aktif membimbing para penulis muda di berbagai lembaga.
Soal karyanya, retoris untuk dipertanyakan. Tahun 2007 lalu, Furqon baru saja memenangkan lomba Essay tentang Jepang tingkat nasional dan Cerpennya berjudul “Jatuh Cinta Pada Bunga”, diterbitkan dan diterjemahkan oleh Tranan Publishing House Ltd bersama 18 penulis Indonésia lainnya dalam kumpulan “Cerpen Mutakhir Indonésia.”

Nassirun Purwokartun

Kartunis asal Purwokerto ini tentu sudah tidak asing di kalangan aktivis FLP. Pendiri FLP Purwokerto yang mengaku sangat penakut dan pemalu, sudah menghasilkan banyak karya berkualitas.
Soal karya fiksi, diantaranya termasuk dalam buku kumpulan Cerpen “Jatuh Cinta Pada Bunga,” “Dari Cinta Ke Cinta,” “Habis Cinta Terbitlah Cinta” dan “Awas Kesetrum Cinta.” Buku Cergam anaknya diterbitkan oleh Indonésia Heritage Foundation untuk kampanye “Membangun Bangsa Berkarakter.”

Eni Widiastuti

Wartawan sebuah media lokal di Solo ini termasuk wajah baru di FLP. Sebelumnya ia hanya sering meliput acara FLP dan dekat dengan beberapa aktivis FLP. Hingga suatu hari, ia diminta untuk bergabung di FLP sebagai Ketua Departemen Humas dan Litbang.
Sebagai wartawan, dunia tulis menulis telah menjadi santapannya sehari-hari. Tapi tentu saja, tulisan yang dihasilkan bukanlah sebuah karya sastra yang mengharu biru.
Perempuan asal Kebumen ini pun mengaku belum pernah mencoba untuk menulis sebuah karya sastra yang bener-bener nyastra. Selama ini, menulis baru sekadar mempraktikan ilmu jurnalistik yang diperolehnya di bangku kuliah.

Mastris Radiamas

Seperti halnya Eni, perempuan kelahiran Kulonprogo, Yogyakarta ini juga seorang wartawan.
Meski sebenarnya ia cukup pandai menyusun kata-kata indah, selama ini wanita yang akrab disapa Amma ini belum pernah menghasilkan karya fiksi.
Amma dipercaya menjadi wartawan politik. Alhasil, penyuka kucing ini cukup paham dengan dunia perpolitikan Solo dengan segala dinamika dan intriknya.

Iffah Noor Chasanah

Ia biasa disapa Iffah. Sepintas, orangnya memang pendiam. Tapi kalau sudah berdiskusi dengannya, barulah tahu kalau Iffah tak seperti perempuan pendiam lainnya.
Dibalik diamnya, Iffah adalah seorang perempuan yang memiliki ide-ide cerdas dan dia kini dipercaya menjadi repórter majalah internal sebuah yayasan di Solo.

NB: Maaf, belum semua profil ditampilkan. Fotonya nyusul ya...